INTERESTNEWS, — KLATEN – Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia memadati kompleks Candi Sewu yang berada di kawasan Taman Wisata Prambanan, Kabupaten Klaten, Minggu (31/5/2026). Mereka mengikuti rangkaian peringatan Hari Tri Suci Waisak 2569 BE/2026 yang berlangsung khidmat dan penuh nuansa kebersamaan.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) tersebut dihadiri perwakilan umat Buddha dari 26 provinsi di seluruh Indonesia. Kehadiran ribuan peserta menunjukkan tingginya antusiasme umat dalam memperingati hari suci yang menandai tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama, yakni kelahiran, pencapaian pencerahan, dan parinibbana.
Kirab Budaya dan Religi
Salah satu rangkaian utama perayaan Waisak adalah kirab budaya dan religi yang dimulai dari Candi Plaosan menuju Candi Sewu. Rombongan peserta berjalan kaki sambil membawa berbagai simbol keagamaan dan budaya yang mencerminkan keberagaman Indonesia.
Kirab berlangsung meriah dengan menampilkan drumband, pasukan pengibar bendera, barisan peserta mengenakan pakaian adat Nusantara bertema Bhinneka Tunggal Ika, pembawa obor dharma, altar puja, gunungan hasil bumi, serta kendi berisi air suci dari Mata Air Jumprit. Selain itu, turut dibawa kendi-kendi air dari berbagai daerah di Indonesia sebagai simbol persatuan dan keharmonisan.
Berbagai kelompok seni tradisional juga turut memeriahkan kirab, menambah semarak suasana sekaligus memperkuat pesan toleransi dan pelestarian budaya dalam perayaan Waisak tahun ini.
Lebih dari 5.000 Peserta
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Sangha Agung Indonesia (SAGIN), Y.M. Khemacaro Mahathera, mengungkapkan bahwa jumlah peserta yang hadir mencapai lebih dari 5.000 orang.
“Secara keseluruhan hingga tadi pukul 07.00 WIB yang mendaftar sudah sekitar 5.200 orang,” ujarnya kepada awak media di sela-sela kegiatan kirab.
Menurutnya, tingginya partisipasi umat dari berbagai daerah menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur ajaran Buddha.

Peringatan Waisak di Candi Sewu tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Buddha, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan, memperkuat kerukunan antarumat beragama, serta mempromosikan kekayaan budaya dan warisan sejarah yang dimiliki Kabupaten Klaten.
(Sino)
