Ribuan Umat Buddha Rayakan Waisak 2570 BE Di Candi Sewu dalam Dekapan Toleransi Lintas Iman

INTERESTNEWS — ​KLATEN, — Kawasan Cagar Budaya Candi Agung Sewu, Klaten, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu sebuah simfoni kedamaian yang luar biasa. Ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru tanah air berkumpul untuk merayakan Hari Tri Suci Waisak 2570 Buddha Era (BE) tahun 2026.

​Tidak sekadar ritual keagamaan, momentum suci tahun ini menjadi panggung nyata runtuhnya sekat perbedaan, di mana pesan perdamaian dunia disuarakan di bawah kawalan ketat pemuda lintas iman.
​Perayaan yang diorganisasi oleh keluarga Budayana Indonesia ini mengusung tema mendalam: “Menebarkan Cinta, Menumbuhkan Perdamaian Dunia.”

​Prosesi Sakral dari Plaosan ke Candi Sewu
​Rangkaian ritual dimulai sejak pagi hari dengan prosesi jalan kaki (pindapata) yang sarat makna dari Candi Plaosan menuju Candi Sewu. Perjalanan ini merupakan simbolisasi dan napak tilas tempat para bikkhu pertama kali berlatih meneguhkan batin sebelum akhirnya mewujudkan perilaku suci mereka di Candi Sewu.

​Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Sangha Agung Indonesia, Bikkhu Khemacaro Mahathera, menjelaskan bahwa barisan prosesi sengaja disusun sedemikian rupa untuk mencerminkan identitas bangsa.

​”Iring-iringan prosesi diawali oleh barisan Bhinneka Tunggal Ika sebagai lambang persatuan NKRI. Di puncaknya, kami dari Bikkhu Sangha menempatkan rupang atau perwujudan suci Manjusri, yang merupakan pusat pemujaan utama di Candi Sewu ini,” ujar Bikkhu Khemacaro

​Hingga pukul 07.00 WIB, data registrasi mencatat sedikitnya 5.200 umat dari 26 provinsi memadati lokasi, dan jumlah tersebut terus melonjak hingga detik-detik puncak Waisak yang jatuh tepat pada pukul 15.14.44 WIB. Selain doa bersama, perayaan tahun ini juga menekankan pentingnya ekoteologi—gerakan spiritual yang harmonis dengan pelestarian lingkungan hidup.

​Nyata Bukan Wacana: Laskar Macan Ali dan Komunitas Kristiani Kawal Bikkhu Thudong
​Ada pemandangan yang sangat menyentuh hati di balik kemegahan ritual tahun ini. Kedatangan rombongan Bhikkhu yang melakukan Tradisi Tudong—ritual berjalan kaki suci—disambut haru oleh masyarakat. Para Bhikkhu ini berhasil menyelesaikan rute spiritual “Indonesia Thudong 2026” sejauh 267 kilometer dari Candi Sima, Jepara, menuju Candi Sewu selama 10 hari berturut-turut.
​Sisi menariknya, garda terdepan yang mengawal keselamatan fisik dan kenyamanan para Bante di sepanjang jalur lintas provinsi adalah Laskar Agung Macan Ali Nusantara Kasultanan Cirebon, sebuah organisasi sayap Muslim, yang bahu-bahu bersama komunitas Kristiani dan Katolik.

BACA JUGA:  Pentingnya Pendidikan Pranikah Dalam Membentuk Keluarga Sakinah

​Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali, Prabu Dias, menegaskan bahwa aksi pengawalan ini murni digerakkan oleh panggilan moral dan jiwa kebangsaan tanpa sokongan sponsor ataupun imbalan materi.

​”Alhamdulillah, kami dibantu saudara-saudara dari komunitas Kristiani dapat mendampingi serta menjaga keselamatan para Bante hingga tiba di tujuan dengan selamat. Perbedaan suku atau kepercayaan bukanlah alasan untuk bermusuh,” ujar Prabu Dias penuh haru di pelataran Candi Sewu.

​Prabu Dias juga mengutip pesan kemanusiaan yang mendalam dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang selalu menjadi jimat pergerakannya: ‘Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan’.

​Kiblat Toleransi Dunia
​Aksi nyata pengawalan lintas agama ini sengaja digaungkan untuk mengirimkan pesan kuat ke panggung internasional. Indonesia ingin membuktikan secara otentik bahwa pluralisme dan toleransi beragama di tanah air berdiri kokoh di atas tindakan nyata, bukan sekadar teori di atas kertas.
​Melalui momentum Waisak 2570 BE di Candi Sewu ini, umat Buddha bersama seluruh elemen masyarakat lintas agama mengimbau dunia untuk kembali bergandengan tangan, merapatkan barisan, dan menolak segala bentuk provokasi yang dapat merongrong kedamaian kemanusiaan. (Benneo)

Mari Bagikan