INTERESTNEWS, — KLATEN – Ada yang berbeda dari perayaan ekaristi di Gereja Santa Maria Assumpta Klaten pada malam pergantian tahun baru Jawa, 1 Suro 1960 Jawa ( 2026 Masehi). Ribuan umat Katolik menghadiri perayaan Misa Kudus dengan mengenakan busana adat Jawa lengkap, menciptakan pemandangan yang sarat akan nilai budaya dan spiritualitas.
Malam 1 Suro, yang merupakan bulan pertama dalam penanggalan Jawa yang diinisiasi oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo sejak zaman Mataram, selama ini dikenal sebagai bulan yang sakral bagi masyarakat tanah Jawa, khususnya di wilayah Yogyakarta dan Surakarta.
Bagi umat Katolik di paroki ini, momentum malam 1 Suro dirayakan secara mirunggan (khusus) melalui Bojona Ekaristi (Perayaan Ekaristi) sebagai wujud rasa syukur sekaligus sarana untuk melakukan olah batin dan mawas diri (refleksi diri) dalam menyambut tahun yang baru.
Misa Konselebrasi Dua Romo satu Frater pada hari senin petang (15/6/2026)
Ibadah ekaristi yang berlangsung khidmat ini dipimpin secara konselebrasi oleh tiga pelayan altar, yakni:
Romo Yoseph Kristanto
Romo Mateus Seto Dwi Aditya
Frater Januarius Murti Pangestu.
Romo Kris dalam Homilinya
Dalam homilinya yang disampaikan menggunakan bahasa Jawa, Romo Kris mengajak umat untuk merefleksikan bacaan Injil Yohanes Bab 15 Ayat 1-8 mengenai perlunya manusia bersatu dengan Gusti Yesus, layaknya ranting yang harus tetap menempel pada pohon anggur agar dapat berbuah lebat.
”Tanpa Aku, kowe ora bisa apa-apa (Tanpa Aku, kamu tidak bisa berbuat apa-apa),” kutip Romo mengistilahkan ketergantungan mutlak manusia kepada Sang Pencipta.
Tiga Laku Jawa untuk Refleksi Batin
Romo Yoseph Kristanto menekankan pentingnya memaknai tradisi Jawa melalui tiga laku utama yang selaras dengan iman Katolik dalam menjalani tahun baru:
Laku Jawa Makna Spiritual
Romo Kris menegaskan Makna Spiritual Laku Jawa ada 3 yang harus dimengerti: “1. Eling (Ingat) Menyadari konsep Sangkan Paraning Dumadi—bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Menyadari diri sebagai calon almarhum/almarhumah agar selalu bersiap diri dengan berbuat baik.
2. Waspada (Sadar/Awas) Menjaga hati dari sifat iri, dengki, gengsi, dan kebiasaan ghibah (mengosongkan hati dari hal negatif). Romo juga sempat berseloroh mengajak umat untuk “tirakat” sejenak dari gangguan gadwai (handphone) selama beribadah.
3. Urup (Menyala) Hidup harus menjadi terang dan berkat bagi sesama. Menjadi pembawa kedamaian, kesejukan di dalam keluarga, jujur di tempat kerja, serta sabar saat di jalan raya.” Tegasnya.
Dalam Homili terakhir beliau menambahkan mengenai filosofi jawa.
“Filosofi Jawa kuno “Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti” mengingatkan kita bahwa segala bentuk angkara murka, kekuatan, dan kesombongan manusia hanya bisa dikalahkan oleh budi pekerti yang luhur, keluhuran hati, serta kasih yang tulus” imbuhnya romo Kristanto
Romo memotong tumpeng berkah
Tradisi Potong Tumpeng, Berkat
Setelah perayaan ekaristi selesai, acara dilanjutkan dengan prosesi potong tumpeng sebagai simbolisasi syukur atas bergantinya tahun. Potong tumpeng ini dipimpin langsung oleh Romo Yoseph Kristanto di hadapan umat yang hadir.
Sebagai penutup rangkaian acara, pihak panitia gereja telah menyediakan sekol berkat (nasi berkat), minuman, serta gunungan di area ruang depan kerja Romo dan selasar ruang atrium Montessori. Seluruh umat Katolik yang hadir dipersilakan mengambil konsumsi tersebut dengan tertib melalui panduan petugas tata laksana.
Dewan Pastoral Paroki Harian, Julius Cahyo Kristiono, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh umat yang antusias nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa ini. Melalui inkulturasi budaya Katolik dan Jawa, diharapkan umat dapat mengawali lembaran tahun baru dengan hati yang bersih, urip yang urup, dan senantiasa mengandalkan berkat dari Tuhan. Misa diiringi gamelan jawa dari umat stasi gereja senden. (Benneo)
