Taj Yasin Apresiasi Peran Media Dongkrak Indeks Demokrasi Jateng

INTERESTNEWS  — SEMARANG — Membaiknya kualitas demokrasi di Jawa Tengah tak lepas dari kontribusi media massa dan media digital dalam menyuarakan aspirasi masyarakat dan mengawal berbagai persoalan publik.

Karenanya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, memberikan apresiasi khusus kepada para media sehingga Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Jateng naik dari posisi empat menjadi tiga nasional pada 2025, di bawah D.I Yogyakarta dan Bali.

“Penghargaan itu sebenarnya bukan untuk Pemprov saja, tetapi untuk kita semua, khususnya para media,” kata Taj Yasin, saat memberikan keynote speech dalam Jateng Media Summit 2026 di Khas Hotel Semarang, Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menyebut media memiliki peran besar dalam menjaga keterbukaan informasi dan memperkuat partisipasi publik, yang menjadi bagian penting dalam penilaian indeks demokrasi.

“Indeks demokrasi itu lahir dari keterlibatan masyarakat, keterlibatan media, sejak era reformasi. Maka capaian ini perlu kita genjot bersama-sama,” ujarnya.

Dalam forum yang diikuti 100 media lokal dan 30 homeless media tersebut, Taj Yasin secara khusus menyoroti perubahan besar ekosistem media di era digital.

Menurut dia, media massa kini tidak hanya bersaing sesama perusahaan pers, tetapi juga menghadapi derasnya arus media sosial dan “homeless media” yang tumbuh cepat di ruang digital.

“Media mainstream sekarang tantangannya adalah media sosial dan homeless media. Dan ternyata homeless media ini minatnya luar biasa,” katanya.

Meski demikian, ia menilai media arus utama tetap memiliki keunggulan utama dibanding kanal digital independen, yakni verifikasi data, kode etik jurnalistik, dan tanggung jawab terhadap informasi yang dipublikasikan.

“Yang membedakan media mainstream adalah pemberitaannya belum keluar kalau belum disertai data-data yang lengkap,” ujarnya.

BACA JUGA:  Zona Merah Peredaran Narkoba Di Semarang Dan Solo

Di sisi lain, Taj Yasin mengakui homeless media memiliki kekuatan dalam menjangkau audiens muda melalui konten cepat dan visual yang lebih sesuai dengan pola konsumsi informasi generasi saat ini.

Karena itu, ia tidak ingin media mainstream dan homeless media saling berhadapan. Sebaliknya, ia mendorong keduanya berkolaborasi untuk membangun ruang informasi yang sehat sekaligus mendukung demokrasi.

“Nah, ini yang saya senang. Ada pertemuan antara media mainstream dengan homeless media sehingga nanti ada titik temu. Karena tujuan kita sama, mencerdaskan masyarakat dan mengawal negara ini,” katanya.

Menurut Taj Yasin, kolaborasi tersebut penting agar ruang digital tidak dipenuhi informasi yang menyesatkan atau hoaks. Ia khawatir jika homeless media berkembang tanpa pendampingan media yang memiliki standar jurnalistik, maka masyarakat akan kesulitan membedakan informasi valid dan tidak valid.

“Kalau homeless media mendominasi tanpa adanya pendampingan dari media mainstream, yang kita khawatirkan adalah pemberitaan yang tidak tepat. Itu yang menjadi musuh bersama, yaitu hoaks,” ujarnya.

Ia juga menilai media berperan penting membantu pemerintah membaca persoalan masyarakat secara cepat. Salah satu contohnya adalah kasus pemutusan kontrak kerja di sebuah perusahaan boneka di Kabupaten Sragen yang sempat ramai diberitakan media.

Menurut dia, setelah kasus itu menjadi perhatian publik, pemerintah dapat segera turun tangan sehingga sebagian pekerja terdampak berhasil dialihkan ke perusahaan lain.

“Inilah pentingnya media. Banyak hal bisa cepat kita tangani karena adanya pemberitaan,” katanya.

Dalam sambutannya, Taj Yasin juga mengingatkan media arus utama agar tidak tertinggal oleh perubahan zaman. Ia menilai generasi saat ini lebih tertarik pada konten audio visual dibanding tulisan panjang.

Karena itu, media mainstream didorong mulai mengembangkan model penyajian konten yang lebih visual dan dekat dengan generasi muda, tanpa meninggalkan prinsip verifikasi dan kode etik jurnalistik.
“Sekarang minat bacanya berubah. Anak-anak lebih suka audio visual. Maka media harus mengikuti zaman, tetapi tidak meninggalkan validitas data,” ujarnya.

BACA JUGA:  Pusat Puji Jawa Tengah Sebagai Percontohan Nasional, Paling Progresif Kawal Sertifikasi Halal

Penyelenggara Jateng Media Summit 2026, Suwarjono, mengatakan forum tersebut memang dirancang untuk mempertemukan media lokal, media digital, hingga homeless media guna membahas masa depan industri media di Jawa Tengah.

Selain diskusi, kegiatan juga diisi workshop pengelolaan website pemerintah dan pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk media lokal.

“Kita ingin media di Jawa Tengah terus hidup dan mampu bertransformasi. Kalau medianya sehat secara bisnis, maka kontennya juga akan berkualitas,” kata Suwarjono.(*Red)

Mari Bagikan