INTERESTNEWS, — MAGELANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mempercepat modernisasi sektor pertanian dari hulu hingga hilir. Terbaru, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meresmikan program elektrifikasi Rice Milling Unit (RMU) ata penggilingan padi skala kecil di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Kamis (5/11/2026).
Langkah strategis ini terbukti berhasil memangkas biaya operasional pascapanen petani hingga lebih dari separuh. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, biaya penggilingan berbasis mesin diesel yang semula mencapai Rp354.670 per ton kini turun drastis menjadi Rp142.820 per ton setelah beralih ke tenaga listrik. Terjadi efisiensi sebesar Rp211.850 per ton atau menghemat hingga 59,7 persen.
Dalam sambutannya, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa modernisasi sarana dan prasarana pertanian saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mutlak guna menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
“Modernisasi alat pertanian itu sangat dibutuhkan. Sekarang merupakan kebutuhan, bukan lagi keinginan. Harus modern. Peningkatan produktivitas tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan alat di lahan, proses pascapanen juga harus diperhatikan agar biaya produksi dapat ditekan dan nilai ekonomi hasil panen meningkat,” ujar Luthfi.
Sepanjang periode 2025–2026, Pemprov Jateng bekerja sama dengan Bank Indonesia, PLN, dan instansi terkait telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp3,1 miliar untuk mengintervensi elektrifikasi 14 unit penggilingan padi skala kecil di berbagai wilayah.
Sementara di sektor hulu, Pemprov Jateng menyalurkan sekitar 1.000 unit alat dan mesin pertanian (alsintan) di 35 kabupaten/kota dengan total alokasi anggaran mendekati Rp80 miliar.
Dampak positif elektrifikasi dirasakan langsung oleh pelaku usaha tani di tingkat tapak. Perwakilan Gapoktan Maju Makmur, Sudarno, menuturkan bahwa efisiensi daya listrik sangat membantu operasional kelompoknya. Sebelum mendapatkan bantuan, mesin diesel membutuhkan sedikitnya 20 liter solar untuk mengolah dua ton gabah, belum lagi kendala kelangkaan bahan bakar dan proses pengoperasian manual yang menguras tenaga.

“Setelah menggunakan listrik, alhamdulillah dengan bantuan dari Gubernur ini penggilingan berjalan lebih lancar. Cukup isi token listrik Rp500 ribu sudah bisa menggiling lima sampai enam ton gabah. Hasil berasnya pun lebih disukai konsumen,” ungkap Sudarno.
Penguatan Ekosistem Hilir dan Gerakan Pangan Murah
Selain modernisasi teknologi, Pemprov Jateng juga memperkuat pembiayaan dan tata niaga hasil panen. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Widi Hartanto, menjelaskan bahwa fasilitas subsidi bunga sebesar Rp62,37 juta telah disalurkan untuk mengover total kredit senilai Rp1,425 miliar bagi 24 gabungan kelompok tani. Sektor pemasaran turut diperkuat melalui pelibatan BUMD PT Jateng Agro Berdikari guna menyerap beras petani secara optimal.
Di saat yang sama, penguatan efisiensi produksi diimbangi dengan pelaksanaaan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga daya beli masyarakat. Hingga awal November 2026, tercatat 2.217 kegiatan GPM telah digelar di seluruh Jateng dengan mencatatkan total omzet mencapai Rp39 miliar.


Menanggapi pencapaian tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi mengingatkan jajarannya agar tidak berpuas diri pada angka statistik semata, melainkan terus memastikan ketersediaan komoditas dan stabilitas harga riil di lapangan.
“Gerakan Pangan Murah orientasinya jangan sebatas ketercapaian program, tetapi orientasinya adalah hasil (result-oriented). Bagamana ketersediaan stok dan keterjangkauan harga benar-benar dirasakan masyarakat,” tegas Luthfi.
Ia menginstruksikan agar intensitas GPM ditingkatkan secara berkelanjutan menjelang penutupan tahun, khususnya menyambut momentum Natal 2026, Tahun Baru 2027, hingga memasuki Ramadan dan Idulfitri 2027 mendatang. (Benneo/*Red)
