INTERESTNEWS, — SALATIGA – Ketua TP PKK Kota Salatiga, Retno Robby Hernawan, meluncurkan Gerakan Ratu Ngebor (Gerakan Satu Rumah Satu Biopori) tingkat Kecamatan Argomulyo di Kelurahan Ledok, Jumat (27/9/2026).
Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya sekaligus mewujudkan lingkungan yang lestari melalui keterlibatan aktif masyarakat.
Peluncuran dihadiri jajaran Pemerintah Kecamatan Argomulyo, para lurah, TP PKK, kader kesehatan dan lingkungan, tokoh masyarakat, serta warga. Turut hadir Camat Argomulyo Agus Budiono bersama perwakilan DLH, DPUPR, DP3APPKB, dan unsur terkait lainnya.
Retno mengapresiasi Pokja II PKK Kota Salatiga yang telah menginisiasi Gerakan Ratu Ngebor. Menurutnya, keberhasilan gerakan tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, kader, pengurus lingkungan, dan masyarakat.
“Kolaborasi seluruh pihak, khususnya Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan, DLH, DPUPR, TP PKK, para kader, ketua RW dan RT, serta seluruh masyarakat harus terus kita kuatkan. Semoga kolaborasi yang telah terbangun tidak berhenti pada kegiatan launching, tetapi terus tumbuh menjadi gerakan bersama yang nyata dan berkelanjutan,” kata Retno.

Ia menegaskan, Ratu Ngebor bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi momentum untuk membangun kebiasaan baru dalam menjaga lingkungan yang dapat dimulai dari rumah dan keluarga.
“Menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari rumah, dari keluarga, dan dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Retno menjelaskan, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, terutama rumah tangga. Pemilahan sampah organik dan anorganik menjadi langkah awal yang penting dalam mengurangi beban sampah.
Menurutnya, sampah anorganik seperti plastik dan kertas telah memiliki berbagai skema pengelolaan melalui bank sampah. Sementara untuk sampah organik, salah satu solusi yang didorong adalah melalui Gerakan Ratu Ngebor.
“Gerakan Ratu Ngebor ini tidak terbatas dengan satu rumah satu biopori saja, namun kita kembalikan pada kondisi wilayah. Jika memang tidak memungkinkan dengan biopori, kita juga bisa menggunakan metode komposter, ember tumpuk, jugangan, dan sistem tebasnisasi,” jelasnya.
Retno mengajak masyarakat Ledok dan seluruh wilayah Salatiga untuk melanjutkan gerakan tersebut secara masif mulai dari tingkat kecamatan, kelurahan, RW, RT hingga rumah tangga.
Ia juga mendorong adanya edukasi dan pendampingan kepada masyarakat agar pengelolaan sampah menjadi kebiasaan bersama.
“Lakukan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat guna mewujudkan Salatiga Lestari, teladan yang tangguh asri. Karena lingkungan yang kita jaga hari ini adalah ruang hidup yang akan diwariskan kepada anak-anak dan generasi mendatang,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Argomulyo Agus Budiono mengajak masyarakat berkomitmen menuntaskan persoalan sampah secara mandiri, dimulai dari lingkungan rumah tangga.
Gerakan tersebut mengusung imbauan “Stop Sampah Organik Keluar dari Sumbernya”. Artinya, sampah organik yang telah dipilah di rumah diharapkan dapat diolah dan diselesaikan secara mandiri tanpa harus dibuang keluar lingkungan RT/RW.
Agus mengatakan, apabila volume sampah organik di rumah cukup banyak dan tidak dapat ditangani sendiri, warga dapat berkoordinasi dengan pengurus RT untuk mencari solusi pengolahan bersama.
Berbagai metode sederhana juga dapat diterapkan, mulai dari pembuatan lubang biopori, pemanfaatan sisa makanan sebagai pakan ternak bagi warga yang memelihara unggas, hingga pengolahan menjadi kompos secara tradisional.
Dukungan dari pengurus lingkungan dan tokoh masyarakat, termasuk Ketua RW setempat, dinilai penting untuk memastikan gerakan tersebut berjalan secara berkelanjutan.
Usai peluncuran, kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan lapangan ke Rumah Kriya serta PAUD Cempaka Putih. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat langsung aktivitas kreativitas masyarakat dan pendidikan anak usia dini di Kelurahan Ledok.
(Sino)
