INTERESTNEWS, — SEMARANG – Jawa Tengah mencatat capaian tertinggi secara nasional dalam pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas pemerintah pusat. Keberhasilan tersebut ditopang oleh integrasi layanan kesehatan berbasis jemput bola melalui program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang kini diusulkan menjadi model nasional.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, dari 38 provinsi di Indonesia, Jawa Tengah menjadi daerah dengan jumlah peserta CKG terbanyak, mencapai lebih dari 10 juta warga. Capaian itu melampaui provinsi dengan jumlah penduduk lebih besar, seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.
“Saya perhatikan jumlah tertinggi tetap di Jawa Tengah. Artinya edukasi kepada masyarakat berjalan sangat baik. Capaian CKG di sini paling tinggi secara nasional,” ujar Benjamin dalam rapat bersama DPR RI, Selasa (9/6/2026).
Ia menjelaskan, Jawa Tengah mencatat lebih dari 10 juta peserta CKG. Sementara Jawa Timur mencapai 6,8 juta peserta dan Jawa Barat 5,2 juta peserta.
Secara nasional, program CKG telah menjangkau hampir 42,3 juta penduduk di 38 provinsi. Dari total 43.660.900 warga yang mendaftar, sebanyak 42.291.657 orang telah mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan.
Terpisah, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh pelaksanaan program CKG. Salah satu bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui program Dokter Spesialis Keliling (Speling), yang menjadi program prioritas bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Menurut Luthfi, Speling dirancang untuk menghadirkan layanan kesehatan gratis hingga ke pelosok desa dengan menerjunkan dokter-dokter spesialis secara langsung ke masyarakat. Program tersebut juga diintegrasikan dengan pelaksanaan CKG agar layanan kesehatan semakin mudah diakses warga.
“Program Speling melibatkan seluruh rumah sakit di Jawa Tengah, baik RSUD milik provinsi maupun kabupaten/kota. Kami juga menggandeng rumah sakit swasta untuk menerjunkan dokter spesialis dalam program ini,” kata Luthfi di Semarang, Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan, Speling tidak hanya melayani pemeriksaan kesehatan umum, tetapi juga pemeriksaan oleh dokter spesialis untuk berbagai penyakit dan kelompok sasaran tertentu.
Layanan yang diberikan antara lain pemeriksaan tuberkulosis (TBC), deteksi dini kanker serviks, pemeriksaan antenatal care (ANC) bagi ibu hamil, layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas, hingga pemeriksaan kesehatan jiwa oleh dokter spesialis kejiwaan.

“Secara tidak langsung dokter spesialis dapat melakukan deteksi dan antisipasi sejak dini. Seluruh layanan diberikan secara gratis. Program ini akan terus kami jalankan dan dikembangkan sebagai model pelayanan kesehatan berbasis desa,” ujar Luthfi.
Data Dinas Kesehatan Jawa Tengah menunjukkan, pada 2025 jumlah pendaftar CKG mencapai 14.587.365 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 14.293.190 warga telah menjalani pemeriksaan kesehatan di fasilitas layanan kesehatan.
Sementara pada 2026, jumlah pendaftar tercatat 11.004.804 orang dengan 10.787.321 warga telah mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, dr Zulfachmi Wahab, menambahkan, capaian tersebut tidak terlepas dari integrasi program CKG dengan Speling yang diinisiasi Gubernur Ahmad Luthfi.
“Kolaborasi program CKG dan Speling memberikan dampak besar bagi masyarakat. Keduanya saling melengkapi dalam upaya deteksi dini penyakit dan perluasan akses layanan kesehatan spesialis hingga tingkat desa,” katanya.
Sejak 2025 hingga 10 Juni 2026, program Speling telah melayani 107.083 warga melalui 1.248 kegiatan pelayanan yang menjangkau 454 kecamatan dan 1.138 desa di Jawa Tengah.
Menurut Zulfachmi, pendekatan jemput bola menjadi salah satu faktor utama tingginya partisipasi masyarakat dalam program CKG di Jawa Tengah.
“Di Jawa Tengah, kami mampu menjadi yang teratas dalam kunjungan karena pendekatan layanan yang lebih dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Untuk memperluas jangkauan layanan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan program Speling menjangkau sekitar 1.000 desa pada 2026 dengan target lebih dari 100.000 warga terlayani.
Upaya tersebut diperkuat melalui kerja sama lintas sektor, antara lain dengan Polda Jawa Tengah untuk pelacakan kasus tuberkulosis serta sejumlah perguruan tinggi dalam pelaksanaan pemeriksaan kesehatan mahasiswa baru.
Selain itu, integrasi layanan juga dilakukan antara puskesmas, rumah sakit kabupaten/kota, dan delapan rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai pusat rujukan lanjutan bagi kasus-kasus yang terdeteksi melalui program CKG dan Speling.
Dengan capaian tersebut, Jawa Tengah tidak hanya menjadi provinsi dengan jumlah peserta CKG tertinggi di Indonesia, tetapi juga dinilai berhasil menghadirkan model layanan kesehatan terintegrasi berbasis desa yang memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah. (*Red)
