Terminal Ir. Soekarno Klaten: Antara Fungsi Transportasi atau Stadion Serbaguna?

INTERESTNEWS,- KLATEN – Terminal Penumpang Tipe A Ir. Soekarno Klaten tengah menjadi sorotan tajam. Fasilitas publik yang seharusnya menjadi urat nadi transportasi darat kini dinilai mengalami pergeseran fungsi yang drastis.

Alih-alih mengutamakan pelayanan bus dan keselamatan penumpang, terminal ini justru tampak lebih sibuk dengan kegiatan non-transportasi yang berdampak pada terganggunya operasional bus.

Bus Double Decker Terusir ke Jalan Lingkar

Puncak keresahan terjadi pada Minggu (28/12/2025). Sebuah kompetisi Pushbike berskala besar digelar di dalam area terminal dari pagi hingga malam hari. Akibatnya, bus-bus besar, terutama tipe Double Decker (bus tingkat), dilarang masuk ke dalam area terminal.

Puluhan armada bus mewah tersebut terpaksa parkir berjajar di tepian jalan lingkar luar terminal. Hal ini tidak hanya menyulitkan kru bus dan penumpang, tetapi juga menimbulkan risiko kecelakaan lalu lintas bagi pengguna jalan lain akibat penyempitan jalur.

“Bagaimana mungkin fungsi utama terminal lumpuh demi kegiatan olahraga? Peraturan seolah mendua; di satu sisi terminal harus steril untuk pelayanan, di sisi lain komersialisasi justru mengusir armada,” ujar salah satu pengguna jasa yang enggan disebutkan namanya.

Ramp Check Dipertanyakan Pasca Kecelakaan Maut

Kritik semakin memanas menyusul tragedi kecelakaan bus Cahaya Transport di Tol Krapyak, Semarang, yang menelan korban jiwa belasan penumpang. Diketahui, bus tersebut merupakan armada yang sering melintasi dan melakukan ramp check (pemeriksaan kelaikan) di Terminal Ir. Soekarno Klaten.

Publik kini mempertanyakan efektivitas pemeriksaan tersebut. Mengapa bus yang rutin diperiksa bisa mengalami kegagalan teknis fatal hingga merenggut nyawa? Muncul dugaan bahwa pemeriksaan kendaraan di terminal hanya menjadi prosedur formalitas di atas kertas tanpa pengawasan teknis yang ketat di lapangan.

BACA JUGA:  Jemaat GNKP ORAHILI 1 Nias Selatan Tetap Komitmen Beribadah Meski Menerjang Banjir

Lantai Dua: Dari Kantor hingga Arena Biliar dan Tinju

Tak hanya area parkir, bangunan utama terminal pun tak luput dari alih fungsi. Lantai dua yang seharusnya difungsikan sebagai area kantor otoritas terminal dan ruang tunggu, kini justru diwarnai kegiatan komersial berupa arena biliar dan kegiatan tinju (boxing).

Kehadiran kegiatan olahraga kontak fisik dan hiburan malam di tengah pusat perkantoran terminal dianggap tidak sinkron dengan etika pelayanan publik. Terminal Ir. Soekarno kini seolah berubah identitas menjadi “Terminal Serbaguna” di mana urusan transportasi bukan lagi menjadi prioritas utama.

Dimana Fungsi Terminal yang Sesungguhnya?

Sesuai regulasi Kementerian Perhubungan, Terminal Tipe A adalah objek vital nasional untuk pelayanan angkutan jalan. Meski konsep mixed-use (pemanfaatan campuran) memang sedang digalakkan, namun prinsip utamanya adalah kegiatan penunjang tidak boleh mengganggu kegiatan utama.

Masyarakat kini mendesak adanya evaluasi menyeluruh dari Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) terkait manajemen Terminal Ir. Soekarno. Keamanan penumpang dan kelaikan bus harus kembali menjadi panglima, bukan justru dikalahkan oleh gemerlap kegiatan komersial yang mengabaikan keselamatan.
(Sino)

Mari Bagikan