INTERESTNEWS — KLATEN – Sekitar 2.500 warga mengikuti kegiatan sepeda santai yang digelar Pemerintah Desa Gaden, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Selasa (25/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Selain menjadi sarana olahraga dan hiburan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum mempererat kebersamaan warga sekaligus menghidupkan kembali kesenian tradisional di tengah masyarakat.
Kepala Desa Gaden, Hj. Partinah, S.T., M.M., turut mengikuti kegiatan bersama masyarakat. Hadir pula anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Hj. Kadarwati, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Ketua TP PKK Kabupaten Klaten Fahrani Hamenang, jajaran OPD, anggota DPRD Kabupaten Klaten Hj. Mulyatminah, serta Forkopimcam Trucuk.
Ribuan peserta tampak antusias mengikuti rute sepeda santai. Usai bersepeda, warga kemudian menikmati sarapan Nyoto Pagi (Nyopag) bersama yang disediakan sebanyak 2.222 mangkuk.
Suasana guyub semakin terasa ketika warga bersama-sama menikmati sarapan. Perayaan kemerdekaan tersebut pun dikemas dengan kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari olahraga hingga kuliner bersama.
Kegiatan juga dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian Reog. Penampilan tersebut menjadi perhatian warga, terutama saat para pemain menampilkan berbagai atraksi khas kesenian tradisional tersebut.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Hj. Kadarwati, mengapresiasi langkah masyarakat Desa Gaden yang memberikan ruang bagi kesenian tradisional untuk tampil di tengah masyarakat.
Menurutnya, pelestarian kesenian daerah penting dilakukan agar generasi muda tetap mengenal budaya yang menjadi bagian dari identitas daerah.
“Kalau kesenian daerah ini tidak dibangkitkan dan ditampilkan, masyarakat desa, khususnya generasi muda, tidak akan mengerti dan mengenal budaya yang menjadi bagian dari jati diri kita,” ujar Kadarwati.
Ia menilai penampilan Reog dalam kegiatan masyarakat merupakan bentuk nyata pelestarian budaya sekaligus menunjukkan kekayaan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat.
“Ini adalah wujud nyata dari kearifan lokal kita yang luar biasa. Itulah budaya kita. Kearifan lokal yang ditunjukkan sangat luar biasa dan tentu kami apresiasi,” katanya.
Atraksi para pemain Reog pun mendapat perhatian dari warga. Kadarwati mengakui sejumlah atraksi dalam pertunjukan tersebut tampak ekstrem bagi masyarakat yang belum terbiasa menyaksikannya.
“Mungkin banyak teman-teman yang kaget, kok ekstrem seperti itu. Ada silet, ada pipi yang ditusuk dengan kawat, apakah tidak sakit? Artinya, ini merupakan kekuatan dan kelebihan yang dimiliki kebudayaan kita,” ungkapnya.
Menurut Kadarwati, kesenian tradisional harus terus diberikan ruang untuk tampil di tengah masyarakat. Dengan begitu, generasi muda dapat melihat secara langsung, mengenal, dan memahami kekayaan budaya yang dimiliki daerahnya.
Ia menegaskan, pelestarian budaya bukan sekadar mempertahankan kesenian agar tidak punah. Lebih dari itu, budaya dapat menjadi sarana menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap daerahnya.
“Ini salah satu wujud kecintaan warga untuk memajukan masyarakat yang mencintai budaya kita. Dari kita, oleh kita, budaya yang kita cintai ini bisa terus ditampilkan,” tuturnya.
Kadarwati berharap kesenian tradisional terus hidup dan berkembang di Desa Gaden. Menurutnya, keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda, menjadi kunci agar budaya lokal tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu.
“Ini termasuk salah satu bentuk pelestarian agar kesenian tradisional kita tidak punah dan tetap hidup di tengah masyarakat. Gaden tetap hidup, Gaden tetap maju,” tandasnya.
(Sino)

