INTERESTNEWS. — DEMAK – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bergerak cepat merespons bencana banjir yang kembali melanda wilayah Kabupaten Demak. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memimpin langsung rapat koordinasi lintas daerah dan kementerian untuk memastikan penanganan Sungai Tuntang dilakukan secara komprehensif dari hulu hingga hilir, Sabtu (4/4/2026).
Langkah strategis ini diambil menyusul jebolnya tanggul Sungai Tuntang di tiga titik, yakni di Desa Trimulyo dan Desa Sidoharjo, yang mengakibatkan ribuan warga di empat kecamatan terpaksa mengungsi.
Bupati Demak: “Hilir Terus Menanggung Beban Kiriman”
Dalam rapat terbatas tersebut, Bupati Demak, dr. Hj. Eisti’anah, S.E., memberikan pernyataan tegas mengenai kondisi wilayahnya yang kerap menjadi “langganan” banjir kiriman. Ia menekankan bahwa efektivitas penanganan di Demak sangat bergantung pada regulasi air di wilayah hulu, khususnya terkait operasional Bendungan Glapan di Grobogan.
”Kami di Demak seringkali menerima limpasan air yang sangat besar dari wilayah hulu, bahkan saat di wilayah kami sendiri tidak ada hujan. Penanganan di hilir tidak akan pernah cukup jika hulunya tidak dibenahi secara serius. Perlu ada konsentrasi bersama karena masalah ini terus berulang,” ujar Bupati Eisti’anah.
Senada dengan Bupati, Sekda Demak Akhmad Sugiharto menambahkan bahwa fluktuasi debit air yang cepat dari wilayah hulu menjadi pemicu utama jebolnya tanggul-tanggul di titik kritis.
Fokus Bantuan dan Kondisi Pengungsi
Hingga Sabtu pagi, data BPBD mencatat sebanyak 2.839 jiwa mengungsi di 13 titik pengungsian. Kecamatan Guntur menjadi wilayah dengan dampak terparah, di mana ketinggian air mencapai 1,5 meter.
Pemprov Jateng memastikan bahwa distribusi bantuan logistik, obat-obatan, dan kebutuhan dasar pengungsi telah berjalan melalui kolaborasi lintas instansi. Kepala Pelaksana BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, menyebutkan meski evakuasi telah dilakukan, tim di lapangan masih memantau warga yang memilih bertahan di atas tanggul demi menjaga ternak mereka.
Langkah Permanen: Normalisasi dan Penguatan Tebing
Pihak BBWS Pemali Juana memaparkan bahwa tahun ini telah disiapkan anggaran sebesar Rp 50 miliar untuk normalisasi sungai sepanjang 10 kilometer dan penguatan tebing sepanjang 600 meter. Namun, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pendekatan ini harus diperluas.
”Kita tidak boleh hanya menjadi pemadam kebakaran yang baru bergerak saat banjir datang. Semua pemangku kepentingan, dari pemerintah daerah hingga kementerian, harus duduk bersama untuk menyelesaikan kendala sedimentasi hingga masalah lahan di bantaran sungai secara permanen,” pungkas Gubernur.
Gubernur Ahmad Luthfi Salurkan Bantuan Rp 236 Juta untuk Pengungsi Banjir Demak
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, bergerak cepat meninjau lokasi dan menyerahkan bantuan logistik senilai Rp 236,98 juta untuk membantu meringankan beban ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal sementara.

Bantuan Lintas Sektor
Bantuan senilai total Rp 236.985.411 tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai instansi di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, termasuk BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, hingga PMI. Bantuan yang diberikan meliputi:
Bahan pokok dan makanan siap saji.
Layanan kesehatan darurat.
Dukungan fasilitas pendidikan di pengungsian.
Kebutuhan sandang dan perlengkapan tidur.
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh kebutuhan dasar pengungsi, mulai dari bayi hingga lansia, terpenuhi tanpa pengecualian.
”Layanan dasar kepada masyarakat terdampak harus terpenuhi. Mulai dari pendidikan, kesehatan, bahan pokok, hingga makanan tidak boleh ketinggalan,” tegas Luthfi saat meninjau barak pengungsian.
Lebih lanjut, Gubernur menyatakan bahwa perbaikan tanggul yang jebol hanyalah langkah awal. Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh untuk mencegah bencana serupa terulang kembali di masa depan.
”Kita mengatasi banjir ini tidak bisa parsial. Dari hulu sampai hilir itu harus kita tuntaskan secara menyeluruh,” tambahnya.
Kesaksian Warga
Kondisi di lapangan menggambarkan betapa cepatnya bencana ini terjadi. Musri’ah (63), salah satu warga, menceritakan bahwa air datang secara tiba-tiba setinggi dada orang dewasa tak lama setelah tanggul terkikis.
Saat ini, tim gabungan masih terus bersiaga di lokasi untuk memantau debit air dan memastikan keamanan warga yang masih bertahan di posko-posko pengungsian hingga kondisi rumah mereka dinyatakan aman untuk dihuni kembali.
Diharapkan dengan koordinasi terpadu ini, proyek penguatan tanggul dan normalisasi Sungai Tuntang dapat segera direalisasikan demi memutus siklus banjir tahunan di Kabupaten Demak.
(*Red)
