Cerpen
oleh : Lasma M Simbolon
Tawa Hegai memecah ruangan, diikuti gelak tawa para pelatih dan dayang istana. Seluruh ruangan riuh dengan derai tawa melihat Hadasa alias Ester yang melenggang kaku, nyaris terjatuh.
“Berusahalah lebih keras lagi Hadasa! Aku memilih pelatih yang terbaik di negeri ini untuk mengajarimu tentang semua kehidupan dan tata krama istana. Jangan menyerah!”
Hegai menepuk bahu Hadasa yang terkulai lunglai kelelahan sambil menghembuskan nafas panjang.
“Hegai! Apakah ini akan berhasil? Sejak kecil aku diasuh oleh pamanku Mordekhai sebagai pekerja keras, mengurus ternak dan ladang gandum. Aku dilatih mengejar binatang buas yang memangsa kambing domba.
Kehidupan bersama paman telah menempaku seperti seorang lelaki perkasa. Bukan wanita gemulai yang feminim dan pesolek. Aku tidak pernah mengecap tata rias wajah maupun aksesoris. Aku terbiasa lari dengan tangkas menghantam mangsa. Sulit rasanya melangkah dengan gemah gemulai dengan pakaian kebesaran ratu semacam ini!” Keluh Hadasa sambil mengemasi gaun-gaun yang berserakan.
“Jangan berkata begitu! Masih banyak waktu. Dengarkan aku! Kau hanya perlu membuat tubuhmu rileks dan mulai melenggang perlahan dengan kaki melangkah sejajar ke depan… nah, dengan begitu langkahmu akan terlihat gemulai..” Hegai menatap mata Hadasa dengan tajam sambil memberikan Contoh. “Dan..kalau bicara cobalah mengaturnya sedemikian rupa sehingga terlihat santun dan berwibawa!” Tegas Hegai.
Hadasa duduk terdiam di sisi Hegai sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Ada gurat keraguan di wajahnya sambil menatap jauh ke langit- langit. “Apakah aku layak menjadi seorang ratu, bukan saja bagi raja tapi juga bagi rakyat? Bukankah sang raja adalah orang yang agung, besar kekuasaannya dan memiliki standar yang tinggi untuk pendampingnya?! Siapakah aku ini, Hegai? Orang yang tidak mungkin bisa masuk daftar untuk menduduki posisi seorang ratu di negeri yang besar ini!” Kata Hadasa perlahan. “Aku lebih menguasai kehidupan padang belantara. Serigala dan binatang di padang tidak mungkin dapat kuhadapi dengan cara yang diajarkan di istana ini. Aku harus berlari cepat dan menghantam musuh dengan tongkatku. Happp!” Hadasa memperagakan sambil mengacungkan kedua tangannya.
Hegai tampak melongo, ia kembali menatap Hadasa lekat. Ia melihat sebuah kekuatan di balik keraguan Hadasa yang membedakannya dengan gadis lainnya: sebuah kepribadian yang kuat, matang dan berani.
Ia begitu mandiri dan rajin, tidak seperti yang lainnya: belum terpilih tapi sudah bersikap arogan. Ia begitu bersahaja dan membaur, apa adanya. Ia memperlakukan para dayang -dayang layaknya sahabat dan keluarga.