INTERESTNEWS, – KLATEN – Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, bersama Wakil Bupati Klaten, Benny Indra Ardhianto, meresmikan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Kemudo Resik yang berlokasi di Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan, pada Selasa (4/11/2025).
Peninjauan Unit Usaha BUMDes
Kegiatan diawali dengan peninjauan Unit Pelayanan Umum dan Toko Desa BUMDes Kemudo Makmur, yakni Kamajaya Mart dan Tarades Café. Kedua unit usaha ini berada di kawasan industri PT Sarihusada, PT Dion Farma, dan PT IGP. Kamajaya Mart dan Tarades Café menyediakan berbagai kebutuhan sembako dan produk harian, menjadikannya pilihan utama tempat berbelanja para karyawan pabrik maupun masyarakat sekitar.
Integrasi Sektor Pertanian dan Peternakan
Usai peninjauan, Bupati dan Wakil Bupati Klaten melanjutkan kegiatan dengan:
Panen ubi jalar.
Penanaman bibit pohon alpukat.
Meninjau kandang kambing.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya integrasi sektor pertanian, peternakan, dan lingkungan di wilayah tersebut.
Apresiasi dari Pemerintah Desa
Pj Kepala Desa Kemudo, Amalia Rahmawati, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bupati dan Wakil Bupati Klaten. Ia mengatakan, peresmian TPS3R tersebut menjadi semangat warganya dalam menyelesaikan permasalahan sampah.
“Terima kasih kepada Bapak Bupati dan Wakil Bupati yang telah meresmikan TPS3R Kemudo Resik ini. Kehadiran beliau menjadi semangat bagi kami untuk terus menyelesaikan permasalahan sampah di desa. Kami juga berterima kasih kepada PT Sarihusada dan BNI yang telah mendampingi pembangunan dan pengelolaan TPS3R ini,” ujar Amalia.
Sambutan dan Arahan Bupati
Dalam sambutannya, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo memberikan apresiasi atas semangat gotong royong seluruh pihak yang terlibat.
“Hari ini saya bersama Wakil Bupati menyampaikan terima kasih kepada seluruh stakeholder di Kemudo mulai dari pemerintah desa, BUMDes, hingga masyarakat yang telah berkolaborasi luar biasa sehingga TPS3R Kemudo Resik ini bisa terwujud,” tuturnya.
Hamenang lebih lanjut menegaskan bahwa TPS3R Kemudo Resik tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga mengintegrasikan bidang pertanian dan peternakan.“
Ini bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam menyelesaikan persoalan sampah secara terpadu. Ke depan, kita dorong masyarakat untuk mengurangi sampah dari rumah melalui pembuatan lubang biopori dan pemilahan sampah organik dan anorganik. Dengan cara ini, volume sampah yang masuk ke TPS3R maupun TPA akan semakin berkurang,” jelasnya.
Menurut Hamenang, apabila pola pengelolaan terpadu seperti ini dijalankan secara konsisten dan masyarakat berpartisipasi aktif, maka persoalan sampah di lingkungan dapat diselesaikan dengan baik dan berkelanjutan.
(Sino)
