Tekan Risiko DBD, Wali Kota Salatiga Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

INTERESTNEWS, — SALATIGA – Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG., menegaskan pentingnya sinergi kolektif dalam menghadapi ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal tersebut disampaikan dalam Pertemuan Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD Kota Salatiga Tahun 2026 yang digelar pada Selasa, (19/05/2026).

Dalam arahannya, dr. Robby menyebutkan bahwa mitigasi DBD tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan semata. Menurutnya, faktor eksternal seperti perubahan iklim yang tidak menentu dan tingginya mobilitas penduduk menjadi tantangan besar yang harus dihadapi bersama.

> “Pengendalian DBD memerlukan kolaborasi lintas sektor, sinergi yang kuat antar-pemangku kepentingan, serta partisipasi aktif masyarakat secara berkelanjutan,” ujar dr. Robby.

Beliau juga menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah dari tingkat kota hingga kelurahan untuk menggencarkan gerakan 3M Plus dan meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala awal agar penanganan medis dapat dilakukan secara cepat tanpa menunggu kondisi kritis.

Data Kasus Terkini: Kelompok Usia Produktif Mendominasi

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Salatiga, Suhardi, memaparkan data epidemiologi hingga minggu kedua Mei 2026. Hingga saat ini, tercatat total 22 kasus gangguan kesehatan akibat nyamuk Aedes aegypti, dengan rincian:

• 1 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
• 19 kasus Demam Dengue (DD).
• 2 kasus Dengue Shock Syndrome (DSS).

Secara demografis, tren penularan di Salatiga saat ini didominasi oleh kelompok usia produktif dan jenis kelamin perempuan.

Statistik Kasus Berdasarkan Kelompok Usia:

| Kelomp Usia | Jml Kasus |
| 1–4 Thn         | 4 Kasus     |
| 5–14 Thn       | 5 Kasus     |
| 15–44 Thn     | 9 Kasus     |
|(Usia produktif)                 |
| 44 Th ke atas | 4 Kasus    |

BACA JUGA:  Wali Kota Salatiga Robby Hernawan dan Kajari Teken MoU Pelaksanaan Pidana Kerja Sosial

Dilihat dari jenis kelamin, pasien perempuan mencatat angka tertinggi yaitu sebesar 61% (13 orang), sementara pasien laki-laki sebesar 39% (9 orang).

Alarm Kewaspadaan

Suhardi menegaskan bahwa data tersebut harus dipandang sebagai alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperketat pemantauan jentik secara berkala. Kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan di tempat tinggal masing-masing tetap menjadi kunci utama.

“Pertemuan ini diharapkan menghasilkan tindak lanjut nyata dan terukur, bukan sekadar seremonial, demi melindungi warga Salatiga dari ancaman fatal DBD,” pungkas dr. Robby menutup arahannya.

(Sino)

Mari Bagikan