INTERESTNEWS, — KLATEN – Tradisi merawat sumber mata air sebagai warisan alam sekaligus sumber kehidupan masyarakat menjadi ruh perayaan Hari Jadi ke-189 Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten. Melalui tradisi Metri Banyu dan Kirab Budaya dalam balutan Tirta Wijaya Festival, warga meneguhkan komitmen menjaga kelestarian sumber air yang selama ini menjadi penopang kehidupan dan penggerak ekonomi desa.
Kegiatan yang dipusatkan di kawasan wisata Umbul Bethek tersebut berlangsung meriah pada Sabtu (31/10/2026). Seluruh unsur masyarakat dari delapan Rukun Warga (RW) turut ambil bagian dalam rangkaian perayaan yang sarat nilai tradisi, budaya, dan kearifan lokal.
Kepala Desa Malangjiwan, Suprianto, mengatakan Tirta Wijaya Festival merupakan agenda tahunan yang lahir dari rasa syukur masyarakat atas melimpahnya sumber mata air di wilayah desa.
“Karena kami diberi air yang melimpah, sehingga kami sepakat dengan warga untuk mengadakan memetri banyu atau memelihara air. Kegiatan itu kita kemas dalam Tirta Wijaya Festival,” ungkapnya.
Ritual Metri Banyu diawali dengan pengambilan air dari dua sumber mata air, yakni Umbul Bethek dan Umbul Brintik. Kedua air tersebut kemudian disatukan dan dituangkan di sejumlah tempat yang dianggap sakral. Ritual ini mengandung harapan agar keberadaan sumber mata air senantiasa memberikan manfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan perekonomian desa.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tumpengan serta doa bersama lintas agama. Masyarakat memanjatkan harapan agar Desa Malangjiwan semakin makmur, gemah ripah loh jinawi, serta senantiasa mendapatkan perlindungan dan keberkahan Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian, kemeriahan berlanjut melalui kirab budaya yang melibatkan seluruh kontingen dari delapan RW. Beragam kreativitas ditampilkan, mulai dari fragmen legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, kisah Sangkuriang, drama kehidupan masyarakat pedesaan, hingga kreasi seni kontemporer khas warga.
Penampilan masing-masing kontingen dinilai langsung oleh dewan juri dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Klaten. Antusiasme masyarakat juga terlihat dari banyaknya warga yang memadati kawasan Umbul Bethek untuk menyaksikan kirab tersebut.
Puncak perayaan semakin semarak dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Jalu Tomo Pandoyo yang membawakan lakon Semar Bangun Kahyangan. Pertunjukan tersebut dimeriahkan bintang tamu Gareng Jajak, Eva Kentir, dan Yati Pesek. Tradisi rebutan gunungan hasil bumi turut menjadi daya tarik sekaligus simbol rasa syukur atas hasil bumi dan kemakmuran desa.
Pariwisata Dongkrak PADes
Di balik pelestarian tradisi dan budaya, Desa Malangjiwan juga menunjukkan perkembangan sektor pariwisata yang berdampak terhadap perekonomian masyarakat dan pendapatan desa.
Pada 2026, Umbul Brintik berhasil masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Award. Destinasi wisata unggulan tersebut bahkan diprediksi mampu meraih peringkat pertama di tingkat nasional.
Capaian tersebut menjadi modal penting bagi Malangjiwan untuk semakin memperkuat posisinya sebagai desa wisata.
Dari sektor pendapatan, Pendapatan Asli Desa (PADes) Malangjiwan pada 2026 tercatat mencapai sekitar Rp4 miliar secara bruto. Pemerintah desa pun memasang target lebih tinggi, yakni Rp5 miliar pada 2027.
Perayaan Hari Jadi ke-189 ini pun tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, Metri Banyu dan Tirta Wijaya Festival menjadi pengingat bahwa kekayaan sumber mata air harus dijaga keberlanjutannya, sementara potensi wisata dan budaya perlu terus dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi desa.
Malangjiwan menunjukkan bahwa tradisi, pelestarian lingkungan, dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan untuk mewujudkan desa yang semakin maju dan sejahtera.
(Sino)
