Bunda Literasi Jateng Ajak Santri UIN Walisongo Jadi Penggerak Penulisan Kitab

INTERESTNEWS, — ​SEMARANG – Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, sebagai nara sumber di acara Orientasi Santri Ma’had Al-Jami’ah di Kampus 3 UIN Walisongo, Semarang Selasa (7/3/26), mengajak para santri untuk kembali membangkitkan tradisi menulis di lingkungan pesantren. Hal tersebut dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan Islam yang telah dibangun oleh para Ulama terdahulu.

​Nawal menjelaskan bahwa dunia pesantren sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari literasi. Sejarah mencatat banyak ulama besar yang sangat produktif menghasilkan karya, seperti Syekh Abdur Rouf As-Singkili dengan 21 kitab dan KH Maimoen Zubair dengan 12 kitab.
​”Maka mudah-mudahan adik-adik di sini insyaallah nanti akan menjadi mualif-mualif, akan menjadi penulis-penulis yang menghidupkan kembali perjuangan para ulama,” ujar Nawal yang juga Pengasuh Ponpes Al Anwar Rembang tersebut.

​Meski literasi adalah napas utama pesantren—mulai dari membaca, mendiskusikan, hingga melakukan syarah (penjelasan) kitab—Nawal mengakui saat ini terdapat berbagai tantangan nyata. Mulai dari mahalnya harga kitab, fasilitas perpustakaan yang terbatas, hingga belum optimalnya penggunaan teknologi digital di kalangan santri. ​Ia menilai, minat menulis dan menerjemahkan kitab saat ini cenderung mengalami penurunan. Oleh karena itu, ia mendorong adanya langkah strategis untuk memperkuat ekosistem literasi.

​”Penting adanya pengembangan perpustakaan pesantren, digitalisasi kitab kuning, hingga penguatan forum diskusi. Kami juga berharap pemerintah dapat memperluas akses hibah kitab maupun pameran-pameran kitab,” tambahnya.

​​Nawal yang juga aktif mengajar di STAI Al-Anwar Sarang menekankan bahwa budaya menulis di pesantren sangat relevan diterapkan di lingkungan universitas. Ia menantang para mahasiswa untuk tidak sekadar membaca, tetapi juga aktif menghasilkan karya tulis ilmiah.
​”Syukur-syukur nanti adik-adik bisa membuat tulisan lewat jurnal atau menulis buku,” pesannya kepada para mahasiswa UIN Walisongo.

​Di sisi lain, ia turut mengapresiasi kurikulum Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo yang mengolaborasikan bahasa asing, kajian kitab kuning, dan pendidikan karakter. Menurutnya, sinergi ini adalah kunci mencetak sarjana yang sekaligus menyandang status ulama.
​Menjalankan tugas dari Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, Nawal menegaskan bahwa Pemprov Jateng terus berkomitmen mengembangkan kualitas pendidikan keagamaan melalui program unggulan “Pesantren Obah”.

BACA JUGA:  Hapal 30 Juz Al-Qur’an Bisa Dapat Beasiswa ke Al-Azhar University

​Menutup acara, Ketua TP PKK Jateng tersebut membagikan buku karyanya yang berjudul “Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual”. Melalui literasi, ia berharap pesantren di Jawa Tengah tetap menjadi ruang aman bagi santri untuk menimba ilmu tanpa rasa takut akan perundungan maupun kekerasan.(Benneo)

Mari Bagikan