INTERESTNEWS, — KLATEN – Pelaksanaan 10 Program Pokok PKK di Kabupaten Klaten tidak sekadar dinilai dari kelengkapan administrasi. Dampak nyata program terhadap kehidupan masyarakat menjadi perhatian utama dalam evaluasi yang dilakukan Tim Penggerak PKK Kabupaten Klaten.
Evaluasi 10 Program Pokok PKK bersama Tim Penilai PKK Kabupaten Klaten digelar di Gedung Pandawa, Desa Duwet, Kecamatan Ngawen, Senin (5/10/2026). Kegiatan tersebut dipimpin Ketua TP PKK Kabupaten Klaten, Fahrani Hamenang.
Fahrani menegaskan, evaluasi dilakukan untuk memastikan berbagai program PKK benar-benar berjalan di tengah masyarakat. Menurutnya, keberhasilan PKK tidak cukup hanya terlihat dari laporan, tetapi harus dapat dirasakan manfaatnya oleh warga.
“Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana 10 Program Pokok PKK ini berjalan di masyarakat. Karena ketika 10 Program Pokok PKK berjalan di masyarakat, otomatis manfaatnya akan dirasakan langsung juga oleh masyarakat tersebut,” kata Fahrani.

Salah satu perhatian serius diarahkan pada Pokja I, khususnya pembinaan generasi muda. Fahrani menilai desa harus memiliki ruang yang cukup bagi remaja untuk melakukan kegiatan positif agar tidak terjerumus dalam aktivitas yang meresahkan masyarakat.
“Kita ketahui bersama di Kabupaten Klaten ini masih ada yang namanya kegiatan remaja yang negatif atau klitih. Nah, dengan PKK ini kita membuat kegiatan-kegiatan remaja di setiap desa, tujuannya agar remaja itu berkegiatan di desa, tidak berkegiatan negatif di luar desa yang mengganggu kenyamanan warga,” tegasnya.
Menurut Fahrani, pembinaan remaja tidak boleh hanya berhenti pada imbauan. Desa perlu menghadirkan kegiatan yang mampu menarik keterlibatan anak muda. Selain pembinaan remaja, Pokja I juga menangani kegiatan lansia, mulai pemeriksaan kesehatan, senam hingga kegiatan produktif.
“Harapannya lansia tetap produktif, sehat dan tidak mudah pikun,” ujarnya.
Sementara Pokja II diarahkan pada penguatan ekonomi keluarga melalui keterampilan dan UP2K (Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga). Kelompok ibu-ibu didorong mengembangkan usaha sehingga kegiatan PKK tidak hanya menjadi aktivitas sosial, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap ketahanan ekonomi keluarga.
Program Bina Keluarga Balita juga menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan upaya pencegahan stunting. Pembinaan menyasar ibu hamil dan ibu yang memiliki balita, terutama mengenai pola asuh dan pemenuhan gizi.
“Kita bina ibu-ibu, baik ibu hamil atau ibu-ibu yang masih mempunyai balita, bagaimana pola asuh ketika mempunyai balita atau bagaimana harus mengonsumsi makanan bergizi agar ketika hamil dan melahirkan bayi yang sehat bebas stunting,” jelas Fahrani.
Di sisi lain, Pokja III mendorong keluarga memanfaatkan lahan pekarangan untuk mendukung kebutuhan pangan. Tanaman pangan hingga ternak di lingkungan rumah diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi keluarga.
Sedangkan Pokja IV berfokus pada Posyandu, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta lingkungan bersih dan sehat. Program tersebut menyentuh aspek kesehatan dan kualitas lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Fahrani menyebut evaluasi tahun ini menyasar 48 desa binaan. Hingga Senin, tim telah mengunjungi 24 desa, sementara dalam sehari terdapat empat desa yang dikunjungi.
“Alhamdulillah selama tiga hari ini jalan, ada sekitar 24 desa yang kita kunjungi. Insya Allah semuanya baik dan 10 Program Pokok PKK sudah dilaksanakan,” ujarnya.
Bukan Sekadar Administrasi
Kepala Desa Duwet, Kecamatan Ngawen, Suharwadi, mengatakan desanya menjadi salah satu lokasi penilaian 10 Program Pokok PKK. Sejumlah aspek yang dinilai meliputi administrasi dan akuntansi, Rumah Sehat, Hatinya PKK (Halaman Asri, Teratur, Indah dan Nyaman), UP2K, pola asuh hingga kegiatan masyarakat lainnya.
Kegiatan keagamaan seperti pengajian juga menjadi bagian dari aktivitas masyarakat yang berkembang di desa.
Suharwadi mengakui menjalankan kegiatan PKK membutuhkan komitmen para kader. Sebab, kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan aktivitas sosial yang dilakukan tanpa bayaran.
Karena itu, ia memilih membangun kesadaran dan keikhlasan kader agar program tetap berjalan secara konsisten.
“PKK merupakan kegiatan sosial, jadi tidak ada bayaran. Jadi kalau saya suruh maksa rasanya kurang begitu enak. Yang penting kita niat ibadah, kerja sambil ibadah, jalan menyelesaikan pekerjaannya pelan-pelan tapi pasti,” pungkasnya.
(Sino)
