Wamen Koperasi dan Wamen Ekraf Tinjau Lurik Prasojo, Maharani Dorong Kebijakan Tenun Nasional

 

INTERESTNEWS, — KLATEN — Sentra kerajinan dan konveksi Lurik Prasojo kembali mendapat kunjungan kerja strategis dari Wakil Menteri Koperasi Faridha Farichah dan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar, Kamis (20/08/2026). Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat langsung perkembangan sektor riil berbasis kerajinan tenun sekaligus meninjau pemanfaatan pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi.

Pemilik Lurik Prasojo sekaligus Ketua Koperasi Kusuma Aji Tera, Maharani Setyawan atau yang akrab disapa Rani Prasojo, menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemerintah Pusat terhadap pengembangan usaha berbasis koperasi dan UMKM.

Rani menjelaskan, akses pembiayaan dari LPDB yang diterima Koperasi Kusuma Aji Tera merupakan kali ketiga sejak pertama kali diajukan pada 2014. Plafon pembiayaan yang diterima juga terus meningkat secara bertahap seiring dengan perkembangan kinerja serta perluasan jaringan usaha koperasi.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan dan apresiasi dari Kementerian. Koperasi Kusuma Aji Tera tidak hanya bergerak di bidang simpan pinjam, tetapi langsung menyasar sektor riil untuk membesarkan UMKM. Kami merangkul kolaborasi mulai dari fashion, handicraft, hingga kriya agar produk UMKM lokal bisa masuk ke wadah yang lebih besar dan menjangkau pasar yang tepat,” ujar Rani.

Dorong Kebijakan Tenun Nasional

Dalam kunjungan tersebut, Rani Prasojo juga menyampaikan sejumlah harapan terkait masa depan industri tenun tradisional Indonesia. Salah satunya adalah penerbitan kebijakan atau imbauan nasional mengenai penggunaan busana berbahan tenun Nusantara.

Ia berharap pemerintah pusat dapat mendorong penggunaan busana tenun, misalnya satu hari dalam sepekan, di lingkungan instansi pemerintah pusat, sekolah hingga fasilitas publik.

Menurut Rani, kebijakan tersebut dapat menjadi instrumen penting untuk memperluas pasar sekaligus melakukan edukasi masyarakat mengenai kekayaan tenun Nusantara secara masif dan terarah.

BACA JUGA:  Hadiri Hari Koperasi ke-79, Presiden Prabowo Targetkan Percepatan Koperasi Merah Putih di Desa

Selama ini, penggunaan busana daerah dinilai masih lebih banyak didorong melalui kebijakan pemerintah daerah. Dengan adanya kebijakan di tingkat nasional, penetrasi pasar tenun diharapkan dapat berkembang lebih luas.

Tenun Diharapkan Sejajar dengan Batik

Rani juga berharap tenun Nusantara mampu memiliki popularitas dan daya saing yang sejajar dengan batik, baik di pasar nasional maupun internasional.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan tenun tradisional yang sangat beragam dari berbagai daerah. Potensi tersebut perlu diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, koperasi, pelaku UMKM, desainer, serta industri kreatif.

Penguatan pasar domestik dinilai penting sebagai fondasi agar produk tenun semakin dikenal dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dorong Kemandirian Bahan Baku

Selain persoalan pasar, Rani menyoroti tantangan lain yang dihadapi industri tenun, yakni ketersediaan bahan baku benang.

Sebagian kebutuhan kapas untuk industri benang masih harus dipenuhi melalui impor karena produksi kapas dalam negeri belum mencukupi kebutuhan industri.

Karena itu, ia mendorong pemerintah membangun ekosistem industri bahan baku secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Langkah tersebut antara lain melalui revitalisasi budidaya pohon kapas atau randu di dalam negeri hingga peningkatan kapasitas industri pemintalan. Dengan demikian, kebutuhan bahan baku bagi para pengrajin tenun diharapkan dapat semakin dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Rani menilai kemandirian bahan baku akan memberikan dampak besar terhadap keberlanjutan industri tenun, sekaligus meningkatkan daya saing produk wastra Indonesia.

Melalui sinergi Kementerian Koperasi, Kementerian Ekonomi Kreatif, koperasi, dan pelaku usaha sektor riil, industri tenun Nusantara diharapkan semakin kuat sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.

Di saat yang sama, pengembangan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya Indonesia agar semakin dikenal dan memiliki daya saing di tingkat global.

BACA JUGA:  Minyak Goreng Murah Hanya Rp14.000 dengan PeduliLindungi/NIK

(Sino)

Mari Bagikan