INTERESTNEWS, — KLATEN – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Klaten menggelar bedah buku bertajuk Jejak Kerukunan dan Harmoni di Kabupaten Klaten dari Perspektif Sejarah di Pendapa Kabupaten Klaten, Rabu (5/8/2026). Kegiatan ini mengangkat kajian sejarah yang menelusuri akar kerukunan umat beragama di Klaten sejak abad ke-8 hingga ke-9.
Ketua FKUB Kabupaten Klaten, KH. Drs. Syamsudin Asyrofi, M.M., menjelaskan bahwa kajian tersebut menunjukkan adanya bukti kuat kerukunan antara umat Hindu dan Buddha pada masa lampau, yang tercermin dalam berbagai prasasti dan peninggalan sejarah di kawasan Prambanan.
“Sejak abad ke-8 hingga ke-9 di Klaten sudah ada tanda-tanda kuat tentang kerukunan Hindu dan Buddha. Itu terlihat dari keberadaan Candi Prambanan yang bercorak Hindu dan Candi Sewu yang bercorak Buddha. Setelah kami teliti, dua kerajaan besar dan dua agama besar saat itu benar-benar menyatu serta saling menguatkan, bukan saling menghancurkan,” ujarnya.
Menurut Syamsuddin, hasil kajian tersebut akan diperdalam melalui bedah buku dengan menghadirkan para ahli sejarah dan arkeologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Staf Khusus Presiden RI Dr. Ir. Cornelius D. Ronowidjojo, Ph..D., M.A, serta Ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesia.
Ia berharap, setelah kajian buku rampung, hasilnya dapat disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto sekaligus dipresentasikan dalam Pekan Kerukunan Internasional di Manado pada akhir Oktober 2026.
“Kami berharap nanti akan semakin kuat bahwa DNA kerukunan itu bahkan bisa jadi salah satu yang paling kuat ada di Kabupaten Klaten,” katanya.
Kegiatan tersebut dihadiri Staf Khusus Presiden RI, Ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesia, jajaran Forkopimda, camat se-Kabupaten Klaten, pengurus FKUB tingkat kecamatan, serta berbagai unsur masyarakat.
Syamsuddin menambahkan, semangat kerukunan yang diwariskan sejak ribuan tahun lalu diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini. FKUB Klaten juga telah mengembangkan berbagai inovasi, di antaranya memperluas penguatan kerukunan hingga tingkat kecamatan dan desa, serta mengintegrasikan nilai-nilai kerukunan dengan sektor industri, UMKM, pertanian, agro, dan budaya.
Dalam bedah buku tersebut, paparan utama disampaikan oleh Insinyur Wisnuhendrata, anggota FKUB Kabupaten Klaten. Sementara para penanggap berasal dari kalangan akademisi, yakni Dr. Daud Aris Tanudirjo dan Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc. dari UGM, serta sejumlah tokoh dari Asosiasi FKUB Indonesia.
Sementara itu, arkeolog UGM Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc. menilai kegiatan tersebut sangat penting sebagai upaya memperkuat harmoni antarumat beragama melalui pendekatan sejarah.
“Kerukunan beragama di Klaten sudah diawali sejak abad ke-8. Buktinya dapat dilihat pada Candi Plaosan yang merupakan candi Buddha, tetapi dibangun melalui kerja sama antara Rakai Pikatan yang beragama Hindu dan Pramodhawardhani yang beragama Buddha. Ini menunjukkan bahwa semangat toleransi sudah tumbuh sejak masa kerajaan kuno,” jelasnya.
Ia berharap nilai-nilai sejarah tersebut terus diwariskan agar menjadi fondasi dalam menjaga kerukunan masyarakat Klaten di masa kini maupun masa mendatang.
(Sino)
